We Are In the Hard Times




Di keadaan yang super sulit ini, izinkan saya sekali-kali ngepost yang sedikit sedih. Ini mungkin post pertama yang munculnya akibat mood yang gonjang ganjing. Seperti yang sedang kita hadapi saat ini, kita semua lagi di masa-masa yang sulit dan berat. Semua hal kena imbasnya termasuk kita-kita sebagai traveller. 85% pekerjaan saya sejak 2018 berasal dari jalan-jalan dan dengan terpaksa semua berhenti secara tiba-tiba. Padahal, semua tiket travel sampe bulan Mei sudah di tangan tinggal cuss pergi, semua rencana batal total. Zonk.

Selama 3 bulan di rumah aja tanpa kemana-mana, saya jadi suka muter video Random di YouTube sambil ngerjain deadline. Sampai pada akhirnya seminggu ini keputer terus Foster the People dan The Killers. Saya seneng banget akhirnya re-call band bagus setelah lama nggak dengerin. Hal ini lumayan nyenengin hati yang selama ini awur-awuran banget barengan sama mood yang nggak bisa diajak kerjasama. Lalu, keputerlah video-video live mereka. Jujur, tiba-tiba langsung mendadak mellow.

Tiba-tiba langsung mikir, sampai kapan ya kita bisa menunggu dunia bener-bener pulih? Rasanya baper banget ngeliat kita di tahun-tahun sebelumnya bisa empet-empetan nempel-nempel nonton konser di tengah ribuan orang. Keadaan dunia nggak akan pernah sama lagi. Kita nggak akan pernah se-bebas itu lagi. Kita pasti jadi insecure buat ngumpul-ngumpul sama banyak orang. Keadaan ini menciptakan barrier yang tebel di antara manusia. Entah sementara atau selamanya kayak gini, kita nggak pernah tau.

Video-video tadi juga membawa memori saya lebih jauh ke belakang. 2015. 2015 merupakan tahun di mana saya mulai bekerja secara full time, belom lulus kuliah. Sampai 2018 saya kerjaannya seneng-seneng aja. Nabung pun cuma buat dipake jalan-jalan dan nonton konser. Sampai pada akhirnya saya nekat memutuskan resign untuk mencoba mimpi saya buat travelling. Kalo dibilang punya tabungan sekarang sih nggak ada juga, dibilang udah tajir juga nggak. Tapi setelah saya pikir-pikir saya nggak pernah menyesali keputusan saya.

Biar bokek ternyata saya pernah berani ambil kesempatan untuk menikmati hidup yang mungkin setelah ini gerak kita akan lebih terbatas, nggak sebebas dulu. Saya sudah pernah merasakan pengalaman-pengalaman magical yang mungkin setelah ini nggak bisa saya dapetin lagi. Saya bersyukur sekali karena berani untuk live my life with every moment. Mungkin ini terdengar seperti pembelaan diri aja ya? 🤣

Saya bisa bilang gini karena nggak cuma sekali saya menyalahkan diri sendiri di pandemi ini. Saya suka mempertanyakan keputusan saya apakah saya salah? Di mana saya nggak punya kerjaan tetap hanya mengandalkan freelance yang nggak seberapa? Salah satu hal yang trigger pikiran saya mungkin karena saya selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Padahal, seharusnya bandingin aja diri sendiri dengan 5 tahun lalu, apakah kita berkembang? Nyatanya iya. Akhirnya saya sadar bahwa saya nggak salah. Kekacauan ini nggak pernah kita harapkan sama sekali. Saya menyadari bahwa kemarahan saya cuma karena planning yang sudah dipikirin nggak berjalan. Padahal, saya cuma harus menyesuaikan diri lagi aja dengan keadaan ini. 

Saya sadar juga sebaiknya saya berterima kasih kepada diri sendiri bukannya mengutuk diri. Berterima kasih karena saya sudah hidup untuk menikmati momen yang ada. Menghargai waktu demi waktu yang nggak bisa diulang lagi. [Chrissila Jessica - @jesch__)


Comments

Popular Posts